expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

prosfek bisnis properti Indonesia tahun 2017 cerah!! inilah sebabnya

empros.co.id Sabtu, 04-02-2017 Prosfek bisnis properti di Indonesia pada tahun 2017 menurut informasi dan berita yang kami himpun dan prediksi beberapa pengamat properti dan nara sumber dari pimpinan Bank Tabungan Negara(BTN) cenderung akan mengalami prosfek yang cerah, karena beberapa indikasi yang terjadi di akhir tahun 2016 penjualan properti mengalami peningkatan yang signifikan.Penjualan properti tempat tinggal baik itu dalam bentuk rumah tapak maupun apartemen diperkirakan bakal terus melesat pada tahun 2017, atau meneruskan tren yang positif menjelang akhir tahun 2016.

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung mengemukakan properti kini adalah bisnis yang menarik, dan berdasarkan data yang diolah Business Intelligent Rumah123 (portal penjualan properti) terlihat kenaikan nilai penjualan yang mencengangkan.
Berdasarkan data Rumah123, kenaikan penjualan rumah tapak pada saat ini nyaris meningkat 200% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan pertumbuhan minat konsumen, lanjutnya, terhadap apartemen juga tidak kalah pesat yaitu mencapai 178% dibandingkan sebelumnya.Tidak hanya penjualan, Rumah123 juga mencatatkan pertumbuhan proyek, serta banyak pengembang besar yang sempat tertunda atau bahkan membangun proyek baru.

Berdasarkan data yang dikelolah portal Business Intelligent Rumah123, nilai di bidang properti naik hingga 125% pada awal 2017. Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung, menyebut nilai itu cukup mencengangkan."Saat ini, orang sudah mulai sadar kalau harga properti semakian meningkat. Tak hanya itu, confidence masyarakat sudah mulai tumbuh. Orang berpikir masuk ke dunia properti tidak salah. Pertumbuhan dunia properti menanjak terus," ungkap Ignatius Untung, di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan, (26/1/2017).

Jenis properti yang paling favorit kedepannya adalah rumah. Sedangkan daerah yang paling mendominasi kenaikan adalah Jakarta Selatan dan Tanggerang. Harga menengah ke bawah jadi permintaan terbanyak konsumen. “Ini akan menjadi fokus developer ke depan,” tuturnya.
"Dari data portal, permintaan konsumen yang terbanyak itu dikisaran 500 juta ke bawah. Hanya konsumen tertentu yang minat berinvestasi properti diatas harga 1M. Namun, kami berharap semua dari sektor properti bisa ikut meningkat," tutupnya.

Sebelumnya, konsultan properti Colliers International Indonesia menyatakan pihak pengembang apartemen di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya saat ini cenderung menahan peningkatan harga karena pertumbuhannya relatif stagnan."Memang sekarang kondisinya di Jakarta, developer cenderung menahan harga," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan properti di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, hasil riset Indonesia Property Watch menunjukkan permintaan hunian bertingkat atau apartemen di Bekasi masih tetap tinggi pada kuartal II-2016, bahkan di atas Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.Mengacu kepada segmentasi pasarnya menempatkan peminat dari kalangan bawah masih tertinggi 59,17%, kalangan menengah 34,66%, dan kelas atas 6,17%.

Muhammad Sulhan Fauzi dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bagian Konstruksi dan Infrastruktur mengatakan bahwa tahun 2017 sudah sepatutnya menjadi titik terang bagi instrumen properti di Indonesia.“Para pengembang sudah cukup lama tertidur sejak dua tahun silam. Kami melihat ekonomi Indonesia cukup stabil pada 2017, tetapi perlu lebih banyak inovasi lagi, terutama di segi kebijakan pemerintah untuk membuat performa pangsa properti berkembang lagi,” ujarnya.

Menurut Country Manager Rumah.com Wasudewan, kebijakan terkait LTV akan memberi angin segar bagi dunia properti di Tanah Air.“Kebijakan DP yang terjangkau akan sangat membantu pembeli pertama. Bagi developer dan agen properti, kebijakan ini juga akan mendukung mereka agar transaksi meningkat,” katanya.

Direktur Utama PT PP Properti Tbk (PPRO) Taufik Hidayat mengatakan, makin menjanjikannya sektor properti di tahun 2017 tak lepas dari terus meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
tahun 2015, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,79 persen, atau menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir.Tahun 2016 ini, ekonomi diperkirakan tumbuh di atas 5 persen.
"Hingga triwulan III saja, pertumbuhan ekonomi sudah mencapai 5,02 persen," ujarnya.

Dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2017, ekonomi diproyeksikan tumbuh hingga 5,3 persen. "Pertumbuhan di atas 5 persen ini pasti akan membuat sektor bisnis properti makin bergairah," terangnya.Apalagi, tahun depan, pemerintah, kata Taufik juga memberikan banyak vitamin dan kemudahan untuk bisnis properti.Antara lain, pemangkasan biaya Pajak Penghasilan (PPh) untuk pembelian rumah/properti dari 5 persen menjadi 2,5 persen.Kebijakan ini tertuang dalam PP Nomor 34 Tahun 2016 tentang PPh atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah atau Bangunan.Lalu rencana pemberian bantuan uang muka untuk pembelian rumah bagi PNS, dan ikut sertanya BPJS dalam penyediaan perumahan."Apalagi, kalau BI rate terkontrol dan inflasi juga terkontrol, peluang bisnis tahun depan akan semakin bagus," tegasnya.

Terlebih, jika program tax amnesty atau pengampunan pajak tahap kedua juga sukses seperti tahap pertama yang berakhir bulan September lalu.Pada tahap pertama tax amnesty ini, uang tebusan mencapai Rp 97,2 triliun, dan deklarasi maupun repatriasi sebesar Rp 3.621 triliun (repatriasi Rp137 triliun)."Kalau tax amnesty tahap kedua juga berhasil, dampaknya pasti luar biasa untuk bisnis properti," tegas Taufik.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan terus memacu penciptaan pengembang baru dan memoles layanan digital banking untuk menggarap potensi besar sektor properti pada tahun 2017.
Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan sektor perumahan nasional pada tahun depan akan terus membaik. Penopangnya, yakni perbaikan beberapa faktor penentu pertumbuhan bisnis properti.
Di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang positif, tingkat suku bunga acuan yang cenderung turun, bonus demografi, hingga pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.
Selain itu, lanjut Maryono, ruang bisnis sektor perumahan pun masih luas untuk dikembangkan. Hingga September 2016, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB berkisar 2,5%-2,8%.

"Dengan kontribusi itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Bank BTN mendorong penciptaan pengembang baru di sisi supply dan terus berinovasi dalam digital banking untuk akselerasi demand," ujar Maryono di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (14/12/2016).
Proyeksi positif bagi sektor perumahan, tambah Maryono, juga melihat sektor properti menjadi salah satu prioritas pemerintah. Apa lagi, dalam sektor properti nasional, Bank BTN tak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga menjadi inisiator dan integrator serta pusat informasi dan keahlian.

Maryono menjelaskan dalam mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang properti, Bank BTN telah memiliki program mini MBA in Property.
Hingga kini, program tersebut telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti. Targetnya, lulusan program ini akan meningkat menjadi 1.000 orang pada 2017.
Pada tahun depan, lanjut Maryono, Bank BTN juga akan mengokohkan digital mortgage perseroan.
"Dengan sistem ini, masyarakat bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) secara online," tutur Maryono.

Adapun, hingga Oktober 2016, pertumbuhan bisnis Bank BTN (unaudited) masih berada di atas industri. Perseroan mencatat peningkatan aset sebesar 18,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp 167,74 triliun di Oktober 2015 menjadi Rp 197,72 triliun di bulan yang sama tahun ini.
Kredit pun naik 16,63% yoy dari Rp 132,89 triliun pada Oktober 2015 menjadi Rp 154,99 triliun di Oktober 2016. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 19,01% yoy dari Rp 124,4 triliun per Oktober 2015 menjadi Rp 148,05 triliun pada Oktober tahun ini. (dna/dna)

Berkaitan dengan hal tersebut, lantas bagaimana dengan bisnis properti tahun 2017 mendatang? Menurut Ali Tranghanda Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch tahun 2017 mendatang bisnis properti akan mengalami pertumbuhan penjualan yang cukup baik, ia memprediksikan nilai penjualan tahun 2017 nanti akan tumbuh sebesar 15%.

Optimisme menggeliatnya pasar properti tahun depan memang bukannya tanpa sebab, Ali mengatakan ada beberapa faktor mengapa sektor ini akan .. salah satunya karena adanya berbagai stimulus yang diluarkan oleh pemerintah seperti menurunnya bunga kredit, pelonggaran LTV, potongan pajak penjualan hingga tax amnesty.Ali mengatakan, lonjakanan pembelian properti akan mulai terasa pada kuartal ke dua tahun 2017, setelah dilakukannya Pilkada Februari 2017,”Tetapi itu dengan catatan Pilkada 2017 nanti akan berlangsung lancar, tidak kisruh,” kata Ali.

Segmen menengah diprediksikan tahun 2017 nanti akan menjadi primadona, dengan kisaran harga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Maraknya pembeli mengincar di kelas ini karena peminat“Segmen menengah nanti akan masih mendominasi, sama seperti tahun 2016 43% penjualan properti ada pada segmen menengah,” jelas Ali.

Ali menjelaskan sebenarnya kondisi bisnis properti tahun 2016 sudah mulai meningkat, buktinya pada kuartal tiga tahun 2016 nilai penjualan naik sebesar 8,1 persen dan unit penjualan naik sebesar 11,3 persen di wilayah Jabodetabek dan Banten.“Namun sayangnya tren positif ini menurun memasuki kuartal 4, karena gejolak politik Pilkada,” kata Ali.

Daerah yang berpotensi menjadi sunrise properti

Ali mengatakan, tahun 2017 mendatang, daerah yang berpontesi menjadi sunrise properti berada pada daerah yang dilalui oleh Transit Oriented Development (TOD) seperti LRT, MRT dan jalan tol. Area tersebut adalah Bekasi, Bogor, Cibubur, Cawang, Cimanggis, Sentul, dan Lebak Bulus.
“Saya memperkirakan harga-harga properti disana nantinya akan melonjak sebesar 15% tahun 2017 mendatang,” kata Ali.

Dampak Tax amnesty terhadap sektor properti 
TAX amnesty sampai triwulan III 2016 belum terlalu terasa pada sektor properti. Soalnya, semua pihak masih sibuk untuk mengikuti program ini. Diperkirakan mulai awal 2017, pasar properti menengah atas justru akan kebanjiran modal. Lihat saja sampai 20 September 2016 deklarasi aset telah menembus angka psikologis sebesar Rp1.011 triliun dengan dana repatriasi sekitar Rp58 triliun. Pastinya, angka ini akan terus bertambah.

Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), menyampaikan hal itu dalam media gathering yang diadakan di Synthesis Square, Kamis (22/9). Menurutnya, properti punya siklus tahunan dan sekarang tengah berada di bawah. "Dulu pemerintah mengeluarkan kebijakan longgar saat bisnis properti melaju. Kini, pemerintah malah mengetatkan kebijakan di tengah properti lesu. Seharusnya pemerintah mengetatkan kebijakan di saat bisnis properti berkembang pesat dan sekarang memberikan stimulus agar properti bangkit lagi," ujarnya.

Budi Yanto Lusli, President Director Synthesis Development, menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan prospek pasar properti yang besar. Dengan pengampunan pajak, banyak transaksi properti dari dana-dana yang selama ini tidak digunakan atau menganggur. Dana properti tersebut masuk melalui bank atau pembelian langsung properti. Dana pembelian langsung memberikan penambahan kapitalisasi pasar properti dengan nilai yang besar. Dana masuk setidaknya akan mengendap sekitar tiga tahun. Ia yakin properti akan menjadi pilihan utama sebagai investasi jangka panjang yang selalu bertumbuh.

“Properti adalah mesin perekonomian yang wajib menjadi perhatian pemerintah. Sepaham dengan Indonesia Property Watch, Synthesis Development berpendapat kehadiran tax amnesty harus diikuti dengan insentif bagi para investor untuk berinvestasi di sektor ini,” jelas Budi.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. akan terus memacu penciptaan para pengembang baru dan memoles layanan digital banking untuk menggarap potensi besar sektor properti pada tahun depan.

Direktur Utama Bank BTN Maryono mengatakan sektor perumahan nasional pada tahun 2017 akan terus membaik. Penopangnya, yakni perbaikan beberapa faktor penentu pertumbuhan bisnis properti. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang positif, tingkat suku bunga acuan yang cenderung turun, bonus demografi, hingga pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.Selain itu, lanjut Maryono, ruang bisnis sektor perumahan pun masih luas untuk dikembangkan. Hingga September 2016, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB berkisar 2,5%-2,8%.

“Dengan kontribusi itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Bank BTN mendorong penciptaan pengembang baru di sisi supply dan terus berinovasi dalam digital banking untuk akselerasi demand,” ujar Maryono dalam acara Forum Ekonomi Nusantara dengan tema Peran Perbankan dalam Mendukung Sektor Properti sebagai Lokomotif Perekonomian di Jakarta, Rabu (14/12).

Proyeksi positif bagi sektor perumahan, tambah Maryono, juga melihat sektor properti menjadi salah satu prioritas pemerintah. Apalagi, dalam sektor properti nasional, Bank BTN tak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga menjadi inisiator dan integrator serta pusat informasi dan keahlian.Maryono menjelaskan dalam mendorong lahirnya wirausaha baru di bidang properti, Bank BTN telah memiliki program mini MBA in Property. Hingga kini, program tersebut telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti. Targetnya, lulusan program ini akan meningkat menjadi 1.000 orang pada 2017.

Pada tahun depan, lanjut Maryono, Bank BTN juga akan mengokohkan digital mortgage perseroan. “Dengan sistem ini, masyarakat bisa mengajukan kredit pemilikan rumah [KPR] secara online,” tutur Maryono.


oke,sekarang anda sudah mengetahui bagaimana prosfek bisnis properti di Indonesia pada tahun ini, jadi tunggu apa lagi? mari mulai berbisnis properti. raih kesempatan anda, Mari bergabung dalam bisnis properti bersama EMPROS PROPERTI dan raihlah kesusksesan awal bisinis properti anda bersama kami.